Sensapi Utam

Buku cerita anak dwibahasa berjudul Sensapi Utam karya Janice Triono ini adalah satu dari sejumlah buku cerita anak dwibahasa yang disiapkan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan untuk menunjang pemenuhan buku bacaan bahasa daerah dan Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.
Buku cerita anak dwibahasa ini disiapkan untuk menunjang pemenuhan buku bacaan bahasa daerah dan Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Buku cerita ini berbasis sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika serta kearifan lokal. Buku cerita dwibahasa ini diterjemahkan dan disunting oleh berbagai pihak. Buku ini hadir untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan anak-anak Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.
SINOPSIS
Utam bukan anak sembarangan. Sejak kecil, ia selalu terpukau dengan suara musik yang dimainkan kakek, seorang seniman Sensapi ulung. Usia Utam baru sebelas tahun tetapi sudah mulai tertarik dengan musik. Utam adalah anak yang sangat penasaran, apalagi soal musik. Sejak kecil, ia sering mendengar suara alat musik yang berbeda-beda. Pagi itu, saat Utam berjalan ke rumah kakek, suara itu kembali terdengar. Ia memutuskan untuk mencari tahu dari mana asal suara itu. Dengan langkah cepat, Utam menyusuri jalan setapak menuju hutan. Di sana, seorang kakek tua duduk di atas batu besar memainkan alat musik yang belum pernah ia lihat sebelumnya yaitu Sensapi alat musik tradisional Dayak Deah yang bentuknya mirip gitar panjang. Suatu hari, ada pengumuman penting. Kakek menyampaikan bahwa akan diadakan sebuah pesta panen tahunan di Desa Kiat. Semua orang di desa boleh menampilkan bakat mereka. Utam kemudian memutuskan untuk ikut serta dalam pesta panen dan memainkan Sensapi. Ia berlatih keras setiap hari bersama kakek, belajar mengekspresikan setiap nada yang keluar dari Sensapi dengan perasaan yang mendalam.
Buku cerita berjudul Sensapi Utam karya Janice Triono ini dapat dibaca di sini.



