Sang Pusaka Raja Tumpang

Buku cerita anak dwibahasa berjudul Sang Pusaka Raja Tumpang karya Masripah ini adalah satu dari sejumlah buku cerita anak dwibahasa yang disiapkan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan untuk menunjang pemenuhan buku bacaan bahasa daerah dan Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.
Buku cerita anak dwibahasa ini disiapkan untuk menunjang pemenuhan buku bacaan bahasa daerah dan Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Buku cerita ini berbasis sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika serta kearifan lokal. Buku cerita dwibahasa ini diterjemahkan dan disunting oleh berbagai pihak. Buku ini hadir untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan anak-anak Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.
SINOPSIS
Di Desa Lepasan Atak dan Kawang menemukan bilah lading pusaka Raja Tumpang di gudang Kai Jilah seorang pandai besi tua. Kai Jilah
menceritakan bahwa lading itu dibuat bukan untuk berperang, tapi sebagai simbol pelindung. Anak-anak itu bersemangat mencoba membuat ulang lading dengan cara tradisional. Mereka mencari bahan besi dan membuat tungku sederhana dengan teknik uap dan api besar. Logam dilelehkan dan dituangkan ke cetakan tanah liat lalu ditempa dengan sabar. Gagang lading dibuat dari kayu salung yang kuat dan harum. Setelah selesai, lading berkilau dan memantulkan api kecil tanda niat tulus. Atak dan Kawang belajar bahwa tradisi leluhur mengajarkan keberanian dan kebijaksanaan. Mereka berjanji menjaga dan melestarikan warisan budaya Bakumpai. Desa Lepasan pun hidup kembali dengan semangat belajar dan melestarikan budaya.
Buku cerita berjudul Sang Pusaka Raja Tumpang karya Masripah ini dapat dibaca diĀ sini.



