Gelang Simpai Paman Enal

Buku cerita anak dwibahasa berjudul Gelang Simpai Paman Enal karya Hersy Ana ini adalah satu dari sejumlah buku cerita anak dwibahasa yang disiapkan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan untuk menunjang pemenuhan buku bacaan bahasa daerah dan Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.
Buku cerita anak dwibahasa ini disiapkan untuk menunjang pemenuhan buku bacaan bahasa daerah dan Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Buku cerita ini berbasis sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika serta kearifan lokal. Buku cerita dwibahasa ini diterjemahkan dan disunting oleh berbagai pihak. Buku ini hadir untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan anak-anak Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.
SINOPSIS
Ada dua anak kembar bernama Ucah dan Ucih. Mereka berumur tiga belas tahun dan selalu bersama ke mana pun pergi, Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan sinarnya membias indah di permukaan Sungai kandu, Ucah dan Ucih sedang bermain di pinggir sungai. Mereka mendengar suara ketukan dan nyanyian rendah dari pondok kayu tak jauh ternyata suara itu berasal dari pondok paman nal, Ucah dan Ucih tertarik dengan kerajinan tangan yang di buat paman nal seperti membuat simpai saat melihat pengikat mandau dililiti oleh lilitan yang memiliki motif yang sangat bagus sehingga mereka penasaran dan ingin membuatnya tapi karena tidak mungkin membuatnya di Mandau sehingga ucah dan ucih ingin membuatnya di tangan untuk hiasan tangan mereka. Kalau ditangan maka akan menjadi gelang simpai Namanya. Ucah dan ucih mulai merasa putus asa karena sedari tadi mereka belum kunjung bisa. Paman Enal tidak hanya mengajarkan teknik menganyam, tapi juga menyelipkan cerita-cerita tentang leluhur mereka dan makna simbol-simbol dalam budaya Dayak. Ucah dan Ucih semakin tertarik, bukan hanya karena kerajinan tangan itu indah, tetapi juga karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mereka mulai membuat untuk mereka sendiri karena merasa masih belum yakin bila memberikan kepada orang lain karena masih belum rapi seiring berjalananya waktu ucah dan ucih sudah mulai mahir membuatnya , setelah selesai ucah dan ucih memperlihatkan hasilnya kepada paman nal, paman nal masih belum percaya bahwa mereka berdua dapat membuat gelang simpai sebagus dan serapi itu dengan waktu yang lumayan singat membuat kerajian gelang simpai. Setiap kalian melihat gelang ini, ingatlah bahwa keberhasilan butuh waktu, usaha, dan kerja sama. belajar bukan hanya membuat, tapi juga menghargai warisan. bedanya simpai Dayak deah dan Dayak yang lain kalau Dayak lain memiliki pipa yang melingkar yang kemudian dianyam seperti membuat tikar sehingga motifnya beragam sedangkan untuk kita yang orang Dayak deah motifnya hanya seperti kepang rambut karena terbuat dari satu helaian Panjang yang di rajut mengelilingi helaian rotan tersebut. Ucah dan Ucih tersenyum bangga. Mereka pulang ke rumah dengan langkah ringan, memamerkan gelang simpai buatan mereka kepada ayah dan ibu. Malam itu, di bawah langit berbintang, mereka duduk di depan rumah sambil menggenggam tangan satu sama lain. Dari kejauhan, suara kelengkopak bambu dari pondok Paman Enal terdengar sayup-sayup, menyatu dengan gemericik sungai dan suara alam Kampung Sungai Rumbia. Malam itu terasa lebih hangat, lebih dalam, seolah hutan dan langit ikut mengikat simpai persaudaraan mereka.
Buku cerita berjudul Gelang Simpai Paman Enal karya Hersy Ana ini dapat dibaca di sini.



